Agri-Business Meeting KOAT dan BRMP SDLP: Sinergi Kolaborasi Inovasi Kesuaian Lahan dan Pemupukan
Bogor, 29 April 2026 – Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian (BRMP SDLP) menggelar seminar bertajuk "Agri-Business Meeting Indonesia Testbed Project". Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kemitraan pertanian Indonesia-Korea, khususnya dalam pengembangan teknologi kesesuaian lahan dengan inovasi pupuk yang berkelanjutan. Seminar ini merupakan bagian dari peningkatan kerja sama dengan Korea Agri Tech Promology Promotion Agency (KOAT) dan dihadiri oleh lebih dari 30 peserta yang terdiri dari perwakilan KOAT, Mr. Shim dan Mr. Junki, serta delegasi dari 15 perusahaan Korea dan jajaran lingkup BRMP SDLP. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari dialog sebelumnya di Jakarta yang berhasil membuka ruang kolaborasi antara pelaku usaha pertanian kedua negara. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperdalam diskusi, memperkuat jejaring kemitraan, serta mengidentifikasi peluang kerja sama yang lebih konkret, terutama di sektor pupuk sebagai input vital pertanian.
Dalam sambutannya, Kepala BRMP SDLP, Asdianto, menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia-Korea memiliki potensi besar untuk mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan testbed atau uji coba lapangan kerja sama kedua negara telah dimulai sejak akhir 2023 dan terus berlanjut hingga kini. Fokus utamanya adalah pengujian produk pupuk asal Korea untuk mengidentifikasi kesesuaian dan potensi pengembangannya di lahan pertanian Indonesia, dengan pendekatan spesifik lokasi yang mempertimbangkan karakteristik lahan dan komoditas unggulan daerah.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber kompeten yang membahas aspek teknis dan regulasi peredaran pupuk di Indonesia. Kepala BRMP Tanah dan Pupuk memaparkan tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Persyaratan Teknis Minimum (PTM) pupuk, Direktur Pupuk dan Pestisida menjelaskan regulasi pendaftaran dan peredaran pupuk, sementara Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian mengulas proses pendaftaran pupuk terintegrasi. Sesi diskusi yang dipandu oleh Anggri Hervani, Ketua Kelompok Layanan dan Kerjasama BRMP SDLP, membuka ruang tanya jawab interaktif seputar harmonisasi standar, percepatan perizinan, dan strategi komersialisasi produk hasil uji coba.
Melalui kegiatan ini, BRMP SDLP dan KOAT berkomitmen untuk memperkuat pelaksanaan Proyek Uji Coba Indonesia-Korea agar hasil pengujian lapangan dapat segera diadopsi menjadi solusi nyata bagi petani. Dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan lokal, produk pupuk yang telah melalui proses testbed diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan keberlanjutan usaha tani di Indonesia. Ke depan, kemitraan ini diharapkan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga meluas pada pertukaran pengetahuan, pelatihan SDM, dan pengembangan model bisnis pertanian yang inklusif demi mendukung ketahanan pangan nasional.